Selasa, 28 Juni 2011

tugas SRTATEGI BAB 6 dan 7

BAB I

Pendahuluan


Variasi gaya mengajar adalah perubahan, sehingga
gaya guru disaat mengajar atau menjelaskan materi pelajaran. Dengan tujuan untuk
mengatasi kebosanan siswa dalam belajar sehingga siswa bersemangat, bergairah
dan berminat terhadap pelajaran di sekolah.

Variasi gaya mengajar ini meliputi variasi suara, perumusan perhatian
kesenyapan, kontak pandang, gerakan anggota badan atau mimik, perpindahan
posisi guru. Kesemuanya ini sangat mempengaruhi minat belajar siswa, minat
belajar siswa dalam kontek proses belajar mengajar merupakan tujuan
pembelajaran, untuk itu mminat belajar siswa sangat penting dan harus
diperhatikan sungguh-sungguh.

Seorang guru atau pengajar yang efesien hendaknya
memperhatikan minat belajar siswanya, apakah siswa berminat atau tidak terhadap
pelajaran, itu sebenarnya tugas guru, guru harus mengetahuinya. Jika ada siswa
yang merasa bosan terhadap pelajaran dan malas belajar, itu tugas guru untuk
mencari solusinya dan menyelidiki faktor-faktor apa yang menjadi penyebabnya.

Banyak faktor yang menyebabkan kebosanan siswa
terhadap pelajaran, salah satunya adalah guru, guru yang tanpa menggunakan
variasi gaya mengajar, misalnya pada waktu menerangkan materi, guru hanya duduk
dikursinya saja dan melihat buku bacaannya, jika ada siswanya bergurau
dibiarkan saja, guru hanya memandang kesatu arah atau satu siswa disaat
menerangkan, jadi siswa yang lain tidak begitu diperhatikan, hal-hal yang
seperti ini yang bisa menjadikan situasi dan suasana kelas tidak kondusif,
dengan suasana seperti ini perhatian dan konsentrasi siswa jadi berkurang alias
terganggu. Oleh karena itu, guru sebaiknya menggunakan variasi dalam gaya
mengajar, agar siswa termotivasi, bergairah dan menciptakan suasana yang
kondusif dalam belajar.

Dalam menggunakan
variasi gaya mengajar jangan berlebihan, karena bisa mengganggu konsentrasi
siswa, biasanya jika guru melakukan variasi gaya mengajar yang berlebihan itu
terkesan kaku dan tergesa-gesa, ini yang menjadi bahan tertawaan siswa, jadi
sebaiknya guru menggunakan variasi gaya mengajar yang secukupnya dan
disesuaikan dengan kebutuhan atau materi yang disampaikan, agar siswa perhatian
dan bersemangat untuk mengikuti pelajaran tersebut, jika siswa perhatian
terhadap pelajaran, otomatis siswa juga berminat dalam belajar. Bila minat
belajar siswa itu tinggi maka tujuan pembelajaran pun akan tercapai dengan
mudah dan maksimal.


Bosan merupakan masalah yang selalu terjadi dimana-mana dan orang selalu
berusaha menghilangkannya, bosan terjadi jika seseorang selalu melihat,
merasakan, mengalami peristiwa yang sama secara berulang-ulang, bertemu dengan
hal-hal yang “itu-itu” juga dan tidak ada sesuatu yang diharapkan.




Variasi dalam PBM dimaksudkan sebagai proses perubahan dalam pengajaran
yang dapat dikelompokkan dalam variasi :

1. Gaya mengajar
2. Penggunaan
alat dan media pengajaran
3. Pola
interaksi dalam kelas.



I.Prinsip
Penggunaan

1. Hendaknya
digunakan dengan maksud tertentu, relevan dengan tujuan yang hendak
dicapai, penggunaan variasi yang wajar dan beragam sangat dianjurkan,
2. Variasi
hendaknya digunakan dengan secara lancar dan berkesinambungan sehingga
tidak merusak perhatian dan mengganggu pelajaran.
3. Komponen
mengadakan variasi tertentu sangat memerlukan susunan dan perencanaan yang
baik.



II.Komponen
Keterampilan

A. Variasi
Dalam Mengajar Guru

1. Penggunaan Variasi Suara

Perubahan suara dari kelas menjadi lemah,
gembira menjadi sedih atau memberikan penekanan pada kata-kata tertentu.

2. Pemusatan Perhatian

Pemusatan perhatian pada hal yang
penting pada hal yang penting dapat dilakukan guru dengan perkataan.

“ Perhatikan baik-baik “dengar
baik-baik ”nah, ini penting sekali, dsb.



Biasanya cara pemusatan ini diikuti
dengan isyarat menunjukkan kepapan tulis, dll.



3. Kesenyapan

Kesenyapan yang tiba-tiba yang disengaja guru selagi
mengajar merupakan alat yang baik untuk menarik perhatian karena siswa ingin
tahu apa yang terjadi.

Dalam mengajukan pertanyaan guru menggunakan waktu
tunggu atau kesenyapan memberikan kesempatan siswa berpikir.

4. Mengadakan Kontak Pandang

Jika berinteraksi dengan murid sebaiknya pandangan
menjelajahi seisi kelas dan melihat murid-murid untuk menunjukan hubungan yang
intim dengan mereka.

Kontak pandang dapat digunakan untuk menyampaikan
informasi seperti : membesarkan mata tnda tercegang.
5. Gerakan Badan Dan Mimik

Ekpresi wajah guru, gerakan kepala, gerakan badan adalah
aspek yang sangat penting dalam komunikasi.
Pengembangan variasi startegi belajar mengajar (dasar, tujun, dan manfaat)
Pengembangan variasi startegi belajar mengajar (dasar, tujun, dan manfaat)
Pengelolaan pengajaran adalah kegiatan mengajar itu sendiri yang melibatkan secra langsung komponen materi pengajaran metode pengajaran dengan alat bantu pengajar dalam rangka pencapaian tujuan pengajaran.
Sedangkan pengelolaan kelas yaitu penciptaan kondisi yang memungkinkan pengelolaan pengajaran dapat berlangsung secara optimal secara sederhana.
Permasalahan dalam pengelaolaan kelasa dapat dibagi menjadi dua:
1. Masalah yang bersumber dari siswa.
2. Masalah yang bersumber dari kondisi tempat belajar.
Maka perlu kehati-hatian dalam menganal apakh suatu masalah itu individu atau kelompok atau malah sebaliknya suatu masalah kelompok hanya menampakkan sebagai masalah individu.
Dibawah ini membahas pendekatan yang membahas teknik dan komponen dalam mengelola kelas:
1. Pendekatan modifikasi prilaku.
Bahwa tingkah laku manusia yang baik maupun yang buruk pada ingkatan tertentu merupaka hasil belajar.
2. Pendekatan iklim sosial emosional.
3. Pendekatan proses kelompok.
Tujuan dan manfaat pengelolaan kelas:
a. Mendorong dan memeratakan partisipasi.
b. Mengusahakan berkompromi.
c. Mengurangi ketegangan.
d. Memperjelas komunikasi.
e. Mengatasi pertentangan antar pribadi atau kelompok.
f. Menunjukkan kehadiran.
g. Menerapkan sanksi.
Referensi: Drs. JJ hasibun Dip Ed ibrahim Mse dkk proses belajar mengajar bandung CV Remadya karya 1983.

Ekpresi wajah misalnya tersenyum cemberut, mengerutkan
dahi berjalan mendekati berdiri siap membantu dan lain-lain.

6. Penggantian Posisi Guru Dalam Kelas

Dimaksudkan berdiri di tengah, dapat didepan, belakang,
bagian kiri, atau kanan kelas.yang perlu diingat hal ini dilakukan dengan
maksud tertentu dan dilakukan secara wajar.



B.
Variasi Dalam Penggunaan Media Da Bahan Pengajaran

Media dan alat pengajaran, jika ditijau dari indra yang
digunakan dapat digolongkan menjadi:

1.
Yang dapat didengar

2.
Yang dapat dilihat dan dirasa

3.
Di bau (dicium) atau manipulasi



Pertukaran penggunaan dari jenis yang satu ke jenis yang
lain misalnya dari media gambar ke tulisan di papan tulis mengharuskan anak
menyesuaikan alat indranya sehingga lebih dapat mempertinggi perhatianya. Jenis
variasi ini dapat digolongkan :



1. Variasi alat / bahan yang dapat didengar

Seperti : Gerafik, gambar dipapan tulis, film, tv, peta poster, dll.

2. Variasi alat / bahan yang dapat didengar

Variasi suara
guru, dengan selingan suara rekaman, radio.

3. Variasi
alat / bahan yang dapat diraba.

Seperti : Patung, alat mainan, bintang hidup yang
memungkinkan untuk dapat dimanipulasi /
diraba.



C. Variasi
Pola Interaksi Dan Kegiatan Siswa

Dengan mengubah pola interaksi ini
guru dengan sendirinya mengubah kewgiatan belajar murid, tingkat dominasi guru,
keterlibatan murid dll.

Seperti :

 Siswa bekerja dalam kelompok kecil,

 Tukar pendapat melalui diskusi,

 Demonstrasi tanpa campur tangan guru.

D. Manfaat
Variasi Dalam kegiatan pembelajaran

Variasi mengandung makna perbedaan. Dalam
kegiatan pembelajaran, pengertian variasi merujuk pada tindakan dan perbuatan
guru, yang disengaja ataupun secara spontan, yang dimaksudkan untuk memacu dan
mengikat perhatian siswa selama pelajaran berlangsung. Tujuan utama guru
mengadakan variasi dalam kegiatan pembelajaran untuk mengurangi kebosanan siswa
sehingga perhatian mereka terpusat pada pelajaran.



E Komponen
dan Prinip-prinsip Keterampilan Mengadakan Variasi

Keterampilan
mengadakan variasi terdiri dari tiga kelompok pokok, yaitu variasi gaya
mengajar, variasi pengalihan penggunaan indra, dan variasi pola interaksi.
Variasi gaya mengajar meliputi
suara jeda, pemusatan, gerak dan kontak pandang. Variasi pengalihan penggunaan
indra dapat dilakukan dengan pemanipulasian indra pendengar, penglihatan,
pencium, peraba dan perasa. Komponen variasi ini erat kaitannya dengan variasi
penggunaan media atau alat bantu pembelajaran. Variasi pola interaksi mencakup
pola hubungan guru dan siswa.


Penerapan keterampilan
mengadakan variasi harus dilandasi dengan maksud tertentu, relevan dengan
tujuan yang ingin dicapai, sesuai dengan materi dan latar belakang sosial
budaya serta kemampuan siswa, berlangsung secara berkesinambungan, serta
dilakukan secara wajar dan terencana.































DAFTAR PUSTAKA

Ahmadi,Abu. H.Drs.
dan Prasetya,Tri,Joko.Drs,2005, Strategi Belajar Mengajar. Bandung:Pusaka
setia.

Au, Mohamad,Drs.,
Guru Dalm Proses Belajar Mengajar, Sinar Baru, Bandung, 1983.

Djamarah Bahri Syaiful.,Drs
dan Zain Usman.,Drs. Strategi Belajar Mengajar, Banjarmasin,Rineka
Cipta l995

Moh Uzer Usman dan Lilis SEtiawati; Upaya
Optimalisasi Kegiatan Belajar Mengajar, ,;Penerbit
PT Remaja Rosdakarta, Cetakan pertama, 1993, Bandung.

Ibrahim, Perencanaan Pengajaran, Rineka
Cipta, Jakarta, 2003

Hamalik, O, Psikologi Belajar dan Mengajar, Sinar Baru, 1992


http://zanikhan.multiply.com/profile



PENGEMBANGAN VARIASI MENGAJAR
BAB I
PENDAHULUAN

Pada dasarnya semua orang tidak menghendaki adanya kebosanan dalam hidupnya. Sesuatu yang membosankan adalah sesuatu yang tidak menyenangkan. Merasakan makanan yang terus-menerus akan menimbulakan kebosanan. Orang akan lebih suka bila hidup itu diisi dengan penuh variasi dalam arti kata positif. Makan makanan yang bervariasi Mendengarkan lagu-lagu baru lebih menyenangkan daripada lagu-lagu yang tiap hari didengar. Rekreasi pada dasarnya juga mengurangi kebosanan pandangan ditempat asalnya. Mengatur alat rumah tangga sering berganti, akan membuat orang lebih senang dirumah daripada pergi. Demikian juga dalam proses belajar mengajar . Bila guru dalam proses belajar mengajar tidak menggunakan variasi, maka akan membosankan siswa, perhatian siswa berkurang, mengantuk, dan akibatnya tujuan belajar tidak tercapai. Dalam hal ini guru memerlukan adanya variasi dalam mengajar siswa.
Keterampilan mengadakan variasi dalam proses belajar mengajar akan meliputi tiga aspek, yaitu variasi dalam gaya mengajar, variasi dalam menggunakan media dan bahan pengajaran, dan variasi dalam interaksi antara guru dan siswa.
Apabila ketiga komponen tersebut dikombinasikan dalam penggunaannya atau secara integrasi, maka akan meningkatkan perhatian siswa, membangkitkan keinginan dan kemampuan belajar. Keterampilan dalam mengadakan variasi ini lebih luas penggunaannya daripada keterampilan lainnya, karena merupakan keterampilan campuran atau diinegrasikan dengan keterampilan yang lain. Misalnya, cariasi dalam memberikan penguatan, variasi dalam memberi pertanyaan, dan variasi dalam tingkat kognitif.
Dalam proses belajar mengajar ada variasi bila guru dapat menunjukkan adanya perubahan dalam gaya mengajar, media yang digunakan berganti-ganti, dan ada perubahan dalam pola interaksi antara guru-siswa, siswa-guru dan siswa-siswa. Variasi lebih bersifat proses daripada produk.
BAB II
PEMBAHASAN

A. Tujuan Variasi Mengajar
Penggunaan variasi terutama ditujukan terhadap perhatian siswa, motivasi dan belajar siswa. Tujuan mengadakan variasi dimadsud adalah :

1. Meningkatkan dan Memelihara Perhatian Siswa Terhadap Relevansi Proses Belajar Mengajar
Dalam proses belajar mengajar perhatian dari siswa terhadap materi pelajaran yang diberikan sangat dituntut. Sedikitpun tidak diharapkan adanya siswa yang tidak atau kurang memperhatikan penjelasan guru, karena hal itu akan menyebabkan siswa tidak mengerti akan bahan yang diberikan guru.
Dalam jumlah siswa yang besar biasanya ditemukan kesukaran untuk mempertahankan agar perhatian siswa tetap pada materi pelajaran yang diberikan. Berbagai factor memang mempengaruhi. Misalnya factor penjelasan guru yang kurang mengenai sasaran, situasi diluar kelas yang dirasakan siswa lebih menarik daripada materi pelajaran yang diberikan guru, siswa yang kurang menyenangi materi yang diberikan guru.
Fokus permasalahan pentingnya perhatian ini dalam proses belajar mengajar, karena dengan perhatian yang diberikan siswa terhadap materi pelajaran yang guru jelaskan, akan mendukung tercapainya tujuan pembelajaran yang akan dicapai.
Tecapainya tujuan pembelajaran tersebut bila setiap siswa mencapai penguasaan terhadap materi yang diberikan dalam suatu pertemuan kelas. Indikator penguasaan siswa terhadap materi pelajaran adalah terjadinya perubahan di dalam diri siswa. Jadi, perhatian adalah masalah yang tidak bias dikesampingkan dalam konteks pencapaian tujuan pembelajaran.
Karena itu, guru memperhatikan variasi mengajarnya, apakah sudah dapat meningkatkan dan memelihara perhatian siswa terhadap materi yang dijelaskan atau belum.
2. Memberikan Kesempatan Kemungkinan Berfungsinyanya Motivasi
Motivasi memegang peranan penting dalam belajar. Seorang siswa tidak akan dapat belajar dengan baik dan tekun jika tidak ada motivasi di dalam dirinya. Bahkan tanpa motivasi, seorang siswa tidak akan melakukan kegiatan belajar. Maka dari itu, guru selalu memperhatikan masalah motivasi ini dan berusaha agar tetap tergejolak di dalam diri setiap siswa selama pelajaran berlangsung.
Dalam proses belajr mengajr di kelas, tidak setiap siswa mempunyai motivasi yang sama terhadap sesuatu bahan. Untuk bahan tertentu boleh jadi seorang siswa menyenanginya, tetapi bahan yang lain boleh jadi siswa tersebut tidak menyenanginya. Ini merupakan masalh bagi guru dalam setiap kali mengadakan pertemuan. Guru selalu dihadapkan pada masalah motivasi. Guru selalu ingin memberikan motivasi terhadap siswanya yang kurang memperhatikan materi pelajaran yang diberikan.
Bagi siswa yang sering memperhatikan materi pelajran yang diberikan, bukanlah masalah bagi guiru. Karena di dalam diri siswa tersebut sudah ada motivasi, yaitu motivasi intrinsik. Siswa yang demikian biasanya dengan kesadarannya sendiri memperhatikan penjelasan guru. Rasa ingin tahunya lebih banyak terhadap materi pelajaran yang diberikan. Berbagai gangguan yang ada disekitarnya kurang dapt mempengaruhinya agar memecahkan perhatiannya.
Lain halnya bagi siswa yang tidak ada motivasi di dalam dirinya, maka motivasi ekstrinsik yang merupakan dorongan dari luar dirinya mutlak diperlukan. Disini peranan guru lebih dituntut untuk memerankan fungsi motivasi, yaitu motivasi sebagai alat yang mendorong manusia untuk berbuat, motivasi sebagai alat yang menentukan arah perbuatan, dan motivasi sebagai alat untuk menyeleksi perbuatan.


3. Membentuk Sikap Positif terhadap Guru dan Sekolah
Adalah suatu kenyataan yang tidak bisa dipungkiri bahwa di kelas ada siswa tertentu yang kurang senang terhadap seorang guru. Sikap negative ini tidak hanya terjadi pada siswa, tetapi juga pada siswi. Konsekuensinya bidang studi yang dipegang oleh guru tersebut juga menjadi tidak disenangi. Acuh tak acuh sering ditunjukkan lewat sikap dan perbuatan ketika guru tersebut sedang memberikan materi pelajaran di kelas.
Metode mengajar yang dipergunakan itu-itu saja. Misalnya hanya menggunakan metode ceramah untuk setiap kali melaksanakan tugas mengajar di kelas. Tidak pernah terlihat menggunakan metode yang lain. Misalnya metode diskusi, resitasi, Tanya jawab, problem solving atau cerita.
Guru yang bijaksana adalah guru yang pandai menempatkan diri dan pandai mengambil hati siswa. Dengan sikap ini siswa merasa diperhatikan oleh guru. Siswa selalu ingin dekat dengan guru. Ketiadaan guru barang sehari di sekolah tidak jarang dipertanyakan. Siswa merasa rindu untuk selalu dekat di sisi guru. Guru seperti itu biasanya karena gaya mengajarnya dan pendekatannya yang sesuai dengan psikologis siswa. Variasi mengajarnya mempunyai relevansi dengan gaya belajar siswa. Di sela-sela penjelasan selalu diselingi humor dengan pendekatan yang edukatif, jauh dari sikap permusuhan.

B. Variasi Gaya Mengajar
1. Pengertian Variasi Gaya Mengajar
Ada beberapa pendapat berkenaan dengan Variasi gaya mengajar. Meliputi:
a. Menurut Uzer Usman variasi adalah suatu kegiatan guru dalam kontek proses interaksi belajar mengajar yang ditujukan untuk mengatasi kebosanan murid, sehingga dalam situasi belajar mengajar. Murid senantiasa menunjukkan ketekunan, antusiasme serta penuh partisipasi.
b. Menurut Abu Ahmadi gaya mengajar adalah tingkah laku, sikap dan perbuatan guru dalam melaksanakan proses pengajaran.
c. Menurut Abdul Qadir Munsyi, gaya mengajar adalah gaya yang dilakukan guru pada saat mengajar di muka kelas.
d. Menurut Syahminan Zaini, gaya mengajar adalah gaya atau tindak-tanduk guru sebagai pernyataan kepribadiannya dalam menyampaikan bahan pelajarannya kepada siswa.
Dari definisi di atas, bisa ditarik kesimpulan bahwa variasi gaya mengajar adalah pengubahan tingkah laku, sikap dan perbuatan guru dalam kontek belajar mengajar yang bertujuan untuk mengatasi kebosanan siswa, sehingga siswa memiliki minat belajar yang tinggi terhadap pelajarannya. Dan ini bisa dibuktikan melalui ketekunan, antusiasme, keaktifan mereka dalam belajar dan mengikuti pelajarannya di kelas.
Anak tidak bisa dipaksakan untuk terus menerus memusatkan perhatiannya dalam mengikuti pelajarannya, apalagi jika guru saat mengajar tanpa menggunakan variasi alias monoton yang membuat siswa kurang perhatian, mengantuk, dan bosan. Untuk mengatasi kebosanan siswa tersebut perlu adanya variasi, dalam keterampilan mengadakan variasi dalam proses belajar mengajar ada tiga aspek, yaitu :
1) Variasi gaya mengajar
2) Variasi dalam menggunakan media
3) Variasi dalam interaksi antara guru dengan siswa.

2. Tujuan Variasi Gaya Mengajar :
1. Meningkatkan dan memelihara perhatian siswa terhadap relevensi terhadap proses belajar mengajar
Dalam proses belajar mengajar, perhatian siswa terhadap materi pelajaran yang diberikan guru merupakan masalah yang sangat penting, karena dengan perhatian tersebut akan mendukung tercapainya tujuan pembelajaran yang akan dicapai. Tujuan tersebut akan tercapai bila setiap siswa mencapai penguasaan terhadap materi yang diberikan dalam suatu pertemuan di kelas.
Dalam jumlah siswa yang banyak, biasanya sulit atau sukar untuk mempertahankan agar perhatian siswa tetap pada materi yang diberikan. Memang ada banyak faktor yang mempengaruhinya, misalnya ; faktor penjelasan guru yang kurang mengenai sasaran, faktor gaya guru dalam mengajar yang tanpa ada variasinya, dan lain sebagainya. Jadi, masalah perhatian siswa terhadap pelajaran tidak bisa dikesampingkan dalam konteks pencapaian tujuan pembelajaran.
Oleh karena itu, guru hendaknya memperhatikan variasi gaya mengajarnya, apakah sudah dapat meningkatkan dan memelihara perhatian siswa terhadap materi yang dijelaskan atau belum.
2. Memberi kesempatan
Memberi kesempatan kemungkinan berfungsinya motivasi dalam belajar, motivasi memegang peranan yang sangat penting, karena tanpa motivasi seorang siswa tidak akan melakukan kegiatan belajar. Motivasi ada 2, yaitu : motivasi intrinsik (dari dirinya sendiri) dan motivasi ekstrinsik (dari luar dirinya sendiri).
Dalam proses belajar mengajar di kelas, tidak setiap siswa didalam dirinya ad motivasi intrinsik yakni kesadarannya sendiri untuk memperhatikan penjelasan guru, rasa ingin tahu lebih banyak terhadap materi yang diberikan guru. Dalam pertemuan dikelas ada juga siswa yang tidak ada motivasi dalam dirinya (Intrinsik), masalah inilah yang sering dihadapi guru. Guru selalu dihadapkan masalah motivasi yakni motivasi ekstrinsik, yang merupakan dorongan dari luar dirinya mutlak diperlukan. Jadi siswa yang tidak ada motivasi didalam dirinya (intrinsik) memerlukan motivasi ekstrinsik untuk me;lakukan kegiatan belajar. Disinilah peranan guru lebih dituntut untuk memerankan motivasi, yaitu motivasi sebagai alat mendorong siswa untuk berbuat, sebagai alat untuk menentukan arah dan sebagai alat untuk menyeleksi kegiatan.
3. Membentuk sikap positif terhadap guru dan sekolah
Tidak bisa dipungkiri bahwa kenyataan yang ada di kelas yakni adanya siswa atau siswi yang kurang senang terhadap dirinya. Sikap negatif ini bisa jadi disebabkan gaya guru mengajar yang kurang bervariasi, gaya mengajar guru tidak sejalan dengan gaya belajar siswa. Konsekwensinya bidang studi yang dipegang guru tersebut menjadi tidak disenangi. Mungkin bisa ditunjukkan dari sikap acuh tak acuh siswa ketika guru tersebut sedang menjelaskan materi pelajaran di kelas.
Ketika mengajar, guru selalu duduk dengan santai dikelas tanpa memperdulikan tingkah laku siswa atau ank didiknya. Ini adalah jalan pengajaran yang sangat membosankan. Dalam hal ini guru gagal menciptakan suasana belajar yang membangkitkan kreatifitas dan kegairahan belajar siswa. Guru yang bijaksana adalah guru yang pandai menempatkan diri dan mengambil hati siswanya. Dengan sikap ini siswa merasa diperhatikan oleh guru. Siswa juga ingin selalu dekat dengan dengan guru. Guru yang dirindukan siswa biasanya dikarenakan gaya mengajarnya dan pendekatannya sesuai dengan psikologis siswa. Variasi gaya mengajarnya mempunyai relevansi dengan gaya belajar siswa.

3. Manfaat Variasi Gaya Mengajar
Mengajar menuntut guru untuk bekerja demi keberhasilan anak didiknya, sehingga kemajuan murid menjadi titik perhatian guru. Rasulullah SAW. menerapkan pengajaran yang sangat memperhatikan perkembangan siswa (sahabat)nya, agar mereka tidak merasa jemu dalam belajar, tersirat dalam hadits :
عـن ابن مسعود قال : كان النبي صلى الله عـليه وسـلم. يتحولـنـا باالمـوعظة فى
الايام كرمة السـامه عليـنا (الحديث)
Artinya : Diriwayatkan dari Ibnu Mas’ud berkata : Nabi SAW. berselang-seling dalam memberikan pelajaran agar terhindar dari kebosanan. (H.R. Bukhari).

C. Prinsip Penggunaan Variasi
Dalam proses belajar mengajar, kegiatan siswa menjadi pusat perhatian guru. Untuk itu agar kegiatan pengajaran dapat merangsang siswa untuk aktif dan kreatif belajar tentu saja diperlukan lingkungan belajar yang kondusif. Salah satu upaya kearah itu adalah dengan cara memperhatikan beberapa prinsip penggunaan variasi dalam mengajar. Prinsip-prinsip tersebut adalah :
1. Variasi hendaknya digunakan dengan suatu maksud tertentu yang relevan dengan tujuan yang hendak dicapai. Dalam menggunakan keterampilan variasi sebaiknya semua jenis variasi digunakan. Disamping itu juga harus ada variasi penggunaan komponen untuk tiap jenis variasi, terutama penggunaan variasi gaya mengajar, dalam bervariasi harus disesuaikan dengan materi pelajaran yang akan disampaikan agar menarik siswa untuk memperhatikan atau mendengarkan penjelasan guru.
2. Variasi harus digunakan secara lancar dan berkesinambungan, sehingga tidak akan merusak perhatian siswa dan tidak menganggu proses belajar mengajar.
3. Direncanakan secara baik dan eksplisit dicantumkan dalam rencana pelajaran. Jadi penggunaan variasi ini harus benar-benar berstruktur dan direncanakan. Karena variasi ini memerlukan keluwesan, spontan sesuai dengan umpan balik yang diterima dari siswa. Umpan balik ini ada dua yaitu Umpan balik tingkah laku yang menyangkut perhatian dan keterlibatan siswa dan Umpan balik informasi tentang pengetahuan dan pelajaran.

D. Komponen-Komponen Variasi Gaya Mengajar
Dalam mengajar hendaknya menggunakan berbagai macam variasi gaya. Dengan variasi gaya tersebut, akan menjadikan siswa merasa tertarik terhadap penampilan mengajar guru. Variasi gaya mengajar guru ini meliputi komponen-komponen sebagai berikut :

1. Variasi Suara
Variasi suara dalah perubahan suara dari keras menjadi lemah, dan tinggi menjadi rendah, dari cepat menjadi lambat.
Suara guru pada saat menjelaskan materi pelajaran hendaknya bervariasi, baik dalam intonasi, volume, nada dan kecepatan. Jika suara guru senantiasa keras terus atau terlalu keras, justru akan sulit diterima, karena siswa menganggap gurunya seorang yang kejam, bila sudah begitu siswa diliputi oleh rasa cemas, ketakutan selama belajar. Masalah seperti ini yang harus dihindari bahkan ditiadakan. Tapi kalau suara guru terlalu lemah (biasanya guru wanita) akan terdengar tidak jelas oleh siswa dan tidak bisa menjangkau seluruh siswa di kelas, apalagi yang duduknya dideretan belakang. Bila sudah begitu siswa akan meremehkan gurunya, perhatian siswa terhadap materi yang diberikan itupun kurang. Untuk itu guru menggunakan variasi suara yang disesuaikan ndengan situasi dan kondisi. Jadi suara guru senantiasa berganti-ganti, kadang meninggi, kadang cepat, kadang lambat, kadang rendah (pelan).
Variasi suara bisa mempengaruhi informasi yang sangat biasa sekalipun, gunakanlah bisikan atau tekanan suara untuk hal-hal penting, gunakan kalimat pendek yang cepat untuk menimbulkan semangat.

2. Pemusatan Perhatian
Perhatian menurut Ghozali adalah keaktifan jiwa yang dipertinggi, jiwa itupun semata-mata tertuju kepada suatu obyek (benda/hal) atau sekumpulan obyek.
Untuk dapat menjamin hasil belajar yang baik, maka siswa harus mempunyai perhatian terhadap bahan yang diajarinya, jika materi yang disampaikan oleh guru iru tidak menjadi perhatian siswa, maka bisa menimbulkan kebosanan, sehingga tidak lagi suka belajar. Untuk memfokuskan perhatian siswa pada suatu aspek yang penting atau aspek kunci, guru dapat menggunakan atau memberikan peringatan dengan bentuk kata-kata. Misalnya : “Perhatikan baik-baik”, “Jangan lupa ini dicatat dengan sungguh-sungguh” dan sebagainya.
Memang menarik perhatian siswa itu sangatlah tidak mudah apalagi dalam jumlah siswa yang banyak, agar perhatian itu tetap ada perlu adanya prinsip-prinsip yakni :
a. Perhatian seseorang tertuju atau diarahkan pada hal-hal yang baru, jenis rangsangan baru yang dapat menarik perhatian termasuk warna dan bentuk. Dalam pelajaran, seorang guru dapat menarik perhatian tentang kata-kata penting pada suatu bacaan dengan memberi warna merah atau digaris bawahi.
b. Perhatian seseorang tertuju atau terarah pada hal-hal yang dianggap rumit. Bagi guru yang harus diingat adalah suatu pelajaran tidak boleh tampak terlalu rumit dan guru tidak boleh mempersulit pelajaran yang sederhana dikarenakan semata-mata untuk menarik perhatian siswa.
c. Orang mengarahkan perhatiannya pada hal-hal yang dikehendakinya, yaitu hal-hal yang sesuai dengan minat dan bakatnya. Untuk menimbulkan minat tersebut ada dua cara yakni dari diri sendiri dan dari luar dirinya. Dari luar bisa saja lingkungan, orang tua dan guru. Disini gurulah yang berhak menimbulkan atau membangkitkan minat belajar siswa baik dirumah maupun dikelas.
Dari ketiga prinsip ini guru harus mengetahui banyak tentang siswanya agar bisa mengarahkan perhatian siswa terhadap materi pelajaran, sehingga siswa memiliki minat belajar yang tinggi guru dalam memusatkan perhatian siswa bisa dengan memberikan kata-kata seperti : “coba perhatikan ini baik-baik”, karena materinya agak sulit dan sebagainya.

3. Kesenyapan atau kebisuan guru (Teaching Silence)
Kesenyapan adalah suatu keadaan diam secara tiba-tiba demi pihak guru ditengah-tengah menerangkan sesuatu.
Adanya kesenyapan tersebut merupakan alat yang baik untuk menarik perhatian siswa. Dengan keadaan senyap atau diamnya guru secara tiba-tiba bisa menimbulkan perhatian siswa, sebab siswa begitu tahu apa yang terjadi dan demikian pula setelah guru memberikan pertanyaan kepada siswa alangkah bagusnya apabila diberi waktu untuk berfikir dengan memberi kesenyapan supaya siswa bisa mengingat kembali informasi-informasi yang mungkin ia hafal, sehingga bisa menjawab pertanyaan guru dengan baik dan tepat.
Pemberian waktu bagi siswa digunakan untuk mengorganisasi jawabannya agar menjadi lengkap. Tapi jika seorang guru tidak memberikan kesenyapan atau waktu kepada siswa untuk berfikir dalam menjawab pertanyaannya siswa akan menjawab dengan asal alias asal bicara, sehingga jawabannya kurang tepat dengan pertanyaan. Untuk itu seyogyanya guru memberikan kesenyapan terhadap siswa untuk memikirkan jawaban dari pertanyaan yang diajukannya supaya jawabannya sempurna dan tepat.

4. Kontak pandang
Ketika proses belajar mengajar berlangsung, jangan sampai guru menunduk terus atau melihat langit-langit dan tidak berani mengadakan kontak mata dengan para siswanya dan jangan sampai pula guru hanya mengadakan kontak pandang dengan satu siswa secara terus menerus tanpa memperhatikan siswa yang lain. sebaliknya bila guru berbicara atau menerangkan hendaknya mengarahkan pandangannya keseluruh kelas atau siswa, sebab menatap atau memandang mata setiap anak disik atau siswa bisa membentuk hubungan yang positif dan menghindari hilangnya kepribadian. Bertemunya pandang diantara mereka yang berinteraksi, sesungguhnya merupakan suatu etika atau sopan santun pergaulan karena menunjukkan saling perhatian diantara mereka.
Hal-hal yang harus dihindari guru selama presentasinya didepan kelas :
a. Melihat keluar ruang
b. Melihat kearah langit-langit
c. Melihat kearah lantai
d. Melihat hanya pada siswa tertentu atas kelompok siswa saja
e. Melihat dan menghadap kepapan tulis saat menjelaskan kecuali sambil menunjukkan sesuatu.
Hal-hal diatas bertujuan supaya bisa mengendalikan situasi kelas dengan baik.
Jadi dalam kontak pandang hendaknya guru berusaha seintim mungkin agar siswa merasa diperhatikan dan dihargai, kontak mata yang sering dilakukan, akan membangun dan membina jalinan tingkat tinggi, yaitu mengetahui psikologi anak atau siswa dan mengetahui seberapa banyak pemahaman siswa terhadap materi yang telah disampaikan. Untuk itu, pandanglah siswa-siswa anda secara merata tapi jangan berlebihan, gunanya pandangan mata, seorang guru adalah untuk menarik perhatian dan minat belajar siswa.

5. Perpindahan Posisi Guru
Perpindahan posisi guru dalam ruang kelas dapat membantu dalam menarik perhatian anak didik, dapat pula meningkatkan kepribadian guru dan hendaklah selalu diingat oleh guru, bahwa perpindahan posisi itu jangan dilakukan secara berlebihan. Bila dilakukan berlebihan guru akan kelihatan terburu-buru, lakukan saja secara wajar agar siswa bias memperhatikan.
Perpindahan posisi dapat dilakukan dari muka ke bagian belakang, dari sisi kiri ke sisi kanan, atau diantara anak didik dari belakang kesamping anak didik. Dapat juga dilakukan dengan posisi berdiri kemudian berubah menjadi posisi duduk dan diam di tempat lalu berjalan-jalan mengelilingi siswa dan sebagainya. Yang penting dalam perubahan posisi itu harus ada tujuannya, dan tidak sekedar mondar-mandir dan seorang guru janganlah melakukan kegiatan mengajar dengan satu posisi, misalnya saja saat menerangkan guru hanya berdiri didepan kelas saja atau duduk dikursi saja, tanpa ada pergantian atau variasi ini bisa menimbulkan kebosanan siswa.
Guru melakukan pergantian posisi, sebaiknya jangan kaku atau kikuk, lakukan saja secara bebas dan wajar bisa menarik perhatian siswa, jika guru kaku dalam bergerak ini bisa menjemukan siswa. Dan bila variasi dilakukan secara berlebihan itu juga bisa mengganggu perhatian siswa atau konsentrasi siswa terhadap pelajaran.
Maka dari itu gunakanlah variasi posisi ini secara wajar dan sesuaikan dengan tujuan, tidak sekedar mondar-mandir.

6. Model-Model Belajar
Dalam melaksanakan variasi gaya mengajar, guru hendaknya memperhatikan dan memahami gaya atau model-model belajar siswanya, supaya siswa termotivasi, bersemangat dan berminat dalam belajar. Adapun model-model belajar ada tiga macam, yaitu :
a. Visual
Bagi pelajar visual, belajar yang efektif adalah dengan menggunakan "gambaran keseluruhan" (melakukan tinjauan umum), yakni dengan membaca bahan pelajaran secara sekilas. Cirri-ciri pelajar visual :
1) Teratur, memperhatikan segala sesuatu
2) Mengingat dengan gambar, grafik dan warna untuk meningkatkan memorinya
Dari ciri-ciri diatas, guru dituntut untuk lebih kreatif dalam menyajikan bahan pelajaran, guru harus bisa menggunakan gambar, warna, untuk menumbuhkan minat belajar siswa dan meningkatkan memori siswa terhadap bahan tersebut. Gaya mengajar guru yang mudah mempengaruhi siswa ini adalah kontak pandang, perpindahan posisi dan eksperimen wajah.
b. Auditorial
Bagi pelajar auditorial, belajar yang efektif adalah dengan mendengar. Untuk itu guru disaat menerangkan dituntut untuk menggunakan variasi, pemusatan, perhatian dan kesenyapan memudahkan dan meningkatkan perhatian siswa dalam belajar.
Ciri-ciri siswa auditorial adalah :
1) Perhatiannya mudah terpecah
2) Berbicara dengan pola berirama
3) Belajar dengan cara mendengar
4) Berdialog secara internal dan eksternal
c. Kinestetik
Bagi pelajar kinestetik, belejar yang efektif adalah dengan melibatkan diri langsung dengan aktifitasnya, jadi merekacenderung pada eksperimen (gerak).
Ciri-ciri siswa kinestetik adalah :
1) Belajar dengan melakukan, menunjuk tulisan saat membaca
2) Mengingat sambil melihat langsung
Disini guru dianjurkan melibatkan siswa saat proses belajar mengajar berlangsung, menggunakan metode eksperimen, bahasa tubuh guru hendaknya bervariasi, supaya menarik perhatian siswa dan mempermudah pemahaman siswa terhadap materi tersebut.



BAB III
KESIMPULAN

Variasi mengajar sangat diperlukan dalam proses belajar mengajar . Komponen-komponen variasi menajar seperti variasi gaya mengajar, variasi media, dan bahan ajaran dan variasi interaksi , mutlak dikuasi oleh guru untuk menggairahkan belajar anak didik dalam waktu relatif lama dalam suatu pertemuan kelas.
Keterampilan mengadakan variasi dalam proses belajar mengajar akan meliputi tiga aspek, yaitu variasi dalam gaya mengajar, variasi dalam menggunakan media dan bahan pengajaran, dan variasi dalam interaksi antara guru dan siswa.
Apabila ketiga komponen tersebut dikombinasikan dalam penggunaannya atau secara integrasi, maka akan meningkatkan perhatian siswa, membangkitkan keinginan dan kemampuan belajar. Keterampilan dalam mengadakan variasi ini lebih luas penggunaannya daripada keterampilan lainnya, karena merupakan keterampilan campuran atau diinegrasikan dengan keterampilan yang lain. Misalnya, cariasi dalam memberikan penguatan, variasi dalam memberi pertanyaan, dan variasi dalam tingkat kognitif.
Tecapainya tujuan pembelajaran tersebut bila setiap siswa mencapai penguasaan terhadap materi yang diberikan dalam suatu pertemuan kelas. Indikator penguasaan siswa terhadap materi pelajaran adalah terjadinya perubahan di dalam diri siswa. Jadi, perhatian adalah masalah yang tidak bias dikesampingkan dalam konteks pencapaian tujuan pembelajaran.
Guru yang bijaksana adalah guru yang pandai menempatkan diri dan pandai mengambil hati siswa. Dengan sikap ini siswa merasa diperhatikan oleh guru. Siswa selalu ingin dekat dengan guru. Ketiadaan guru barang sehari di sekolah tidak jarang dipertanyakan. Siswa merasa rindu untuk selalu dekat di sisi guru. Guru seperti itu biasanya karena gaya mengajarnya dan pendekatannya yang sesuai dengan psikologis siswa. Variasi mengajarnya mempunyai relevansi dengan gaya belajar siswa. Di sela-sela penjelasan selalu diselingi humor dengan pendekatan yang edukatif, jauh dari sikap permusuhan.
DAFTAR LITERATUR
Josephus Ignatius Gerardus dkk “Sekolah: mengajar atau mendidik?”, Kanisius. 1998
Kushartanti dkk,, “Pesona bahasa: langkah awal memahami linguistic”, Gramedia Pustaka Utama, 2005
Sumitra Kalapaking dan Sugiono Suryaningtias “Ilmu pendidikan sejati”, s.n., 1982
Abd. Rahman Shaleh, “Pendidikan agama & pembangunan watak bangsa”, RajaGrafindo Persada, 2005
Ary H. Gunawan, “Sosiologi pendidikan: suatu analisis sosiologi tentang pelbagai problem pendidikan”, Rineka Cipta, 2000
 Drs Syaiful Bahri Djamara dan Drs Aswan Zain; Strategi Belajar Mengajar, :Penerbit Rhineka Cipta, Cetakan ke tiga , Agustus 2006, Jakarta
Roestiyah N K; Strategi Belajar Mengajar ; Penerbit Rhineka Cipta, Cetakan ke tujuh , Maret 2008, Jakarta
 Moh Uzer Usman dan Lilis SEtiawati; Upaya Optimalisasi Kegiatan Belajar Mengajar, ,;Penerbit PT Remaja Rosdakarta, Cetakan pertama, 1993, Bandung.
Hamalik, O, Psikologi Belajar dan Mengajar, Sinar Baru, 1992
Tohirin, Psikologi Pembelajaran PAI, Rineka Cipta, Jakarta, 2005
Prof. Dr Azhar Arsyad,M.A , Media Pembelajaran, PT Rajagrafindo, edisi ke 9 , 2007. JakartaPENDAHULUAN
Pengertian mengajar adalah penyerahan kebudayaan berupa pengalaman-pengalaman kecakapan kepada anak didik atau usaha mewariskan nilai-nilai kebudayaan kepada generasi muda/penerus, sejalan dengan pendapat De Quelyu
dan Gazali dalam Abdurrahman(1990: 73) mengatakan bahwa belajar adalah menanamkan pengetahuan pada seseorang dengan cara paling singkat dan tepat .
Usman (1995: 6) menyatakan mengajar merupakan suatu perbuatan yang memerlukan tanggung jawab yang cukup berat, karena berhasilnya pendidikan pada siswa sangat bergantung pada pertanggungjawaban guru dalam melaksanakan tugasnya.
Mengajar pada prinsipnya membimbing siswa dalam kegiatan belajar mengajar atau mengandung pengertian bahwa mengajar merupakan suatu usaha mengorganisasi lingkungan dalam hubungannya dengan anak didik dan bahan pengajaran yang menimbulkan proses belajar (Usman, 1995: 6). Sejalan dengan
itu, Hamalik (2001: menyatakan bahwa mengajar adalah usaha guru untuk mengorganisasi lingkungan sehingga menciptakan kondisi belajar bagi siswa. Pengertian ini mengandung makna bahwa guru dituntut untuk dapat berperan sebagai organisator kegiatan belajar siswa dan juga hendaknya mampu memanfaatkan lingkungan, baik yang ada di kelas maupun yang ada di luar kelas yang menunjang kegiatan belajar mengajar.
Dalam proses mengajar ada variasi bila guru dapat menunjukkan adanya perubahan dalam gaya mengajar, media yang digunakan berganti-ganti, dan ada perubahan dalam pola interaksi antara guru-siswa. Variasi lebih bersifat proses daripada produk.
A. TUJUAN VARIASI MENGAJAR
Penggunaan variasi mengajar adalah untuk menarik perhatian para anak didik agar lebih berkonsentrasi kepada pelajaran yang diberikan oleh guru. Tujuan tersebut dapat adaah :
1. Meningkatkan dan Memelihara Perhatian Siswa terhadap Relevandi Proses Belajar Mengajar.
Perhatian siswa dalam pelajaran yang diberikan oleh guru selama proses pembelajaran amat penting karena mempengaruhi keberhasilan tujuan belajar mengajar yang ditunjukan oleh penguasaan materi pelajaran pada setiap siswa. Indikator penguasaan siswa terhadap materi pelajaran adalah terjadinya perubahan didalam diri siswa.
1. Memberikan kesempatan Kemungkinan Berfungsinya Motivasi
Siswa tidak akan belajar dengan baik dan tekun jika tidak ada dorongan kuat yang menggerakan siswa tersebut , dorongan tersebut disebut Motivasi. Oleh sebab itu motivasi memegang peranan penting dalam belajar. Motivasi setiap siswa berbeda terhadap suatu bahan pelajaran , oleh karena itu seorang guru selalu ingin memberikan motivasi terhadap siswa yang kurang memberikan perhatian terhadap materi pelajaran yang diberikan.
Motivasi dapat dibedakan berdasarkan timbulnya yaitu :
- Motivasi Intrinsik, motivaasi yang timbul dari diri sendiri
- Motivasi Ekstrinsi yaitu motivasi yang timbul akibat dorongan dari pihak luar dirinya
Masalah akan muncul apabila ada siswa yang tidak ada motivasi di dalam dirinya, maka motivasi ekstrinsik yang merupakan dorongan dari luar dirinya sangat diperlukan, dan peranan guru pada saat seperti ini sebagai alat yang mendorong manusia untuk berbuat dan sebagai arah yang menentukan arah perbuatan dan alat unttuk menyeleksi perbuatan.
1. Membentuk sikap positif terhadap guru dan sekolah
Tanggap siswa kepada gurunya bermacam-macam, masalah akan muncul apabila ada siswa tertentu yang kurang senang terhadap gurunya , yang mengakibatkan bidang pelajaran yang dipegang oleh guru tersebut menjadi tidak disenangi.
Ketidak sukaan siswa terhadap guru tersebut mungkin terjadi karena :
- guru tersebut kurang bervariasi dalam mengajar atau
- gaya mengajar guru tidak sejalan dengan gaya belajar siswa.,
- guru kurang dapat menguasai keadaan kelas
- guru gagal menciptakan suasana belajar yang membangkitkan kreatifitas dan kegairahan belajar siswa
Hal ini kurang menguntungkan guru.
Oleh sebab itu jadilah guru yang bijaksana adalah guru yabf pandai menempatkan diri dan pandai mengambil hati siswa dengan cara mempunyai gaya mengajar dan pendekatan yang sesuai dengan psikologis siswa misalnya disela-sela pelajaran selalu diselingi humor dengan pendekatan edukatif.
1. Memberikan Kemungkian Pilihan dan Fasilitas Belajar Individual
Seorang guru dituntut untuk mempunyai berbagai ketrampilan yang mendukung dalam proses beajar mengajar. Penguasaan metode pelajaran yang dituntut kepada guru tidak hanya satu atau dua metode , tetapi lebih banyak lagi. Selain itu, seorang guru harus menguasai tiga ketrampilan meliputi :
• Metode
• Media
• Pendekatan
Apabila seorang guru mengusai ketiga ketrampilan tersebut diatas, maka guru tersebut sangat mudah melakukan pengembangan variasi mengajar untuk mencipkan lingkungan belajar yang kondusif.
Fasilitas merupakan kelengkapan yang diperlukan disekolah. Fasilitas dapat berfungsi sebagai :
• Sebagai alat bantu pengajaran
• Sebagai alat peraga
• Sebagai sumber belajar
Kelengkapan fasilitas belajar tersebut mempengaruhi guru dalam pemilihan metode pengajaran.
1. Mendorong Anak Didik untuk Belajar
Seorang guru harus menyediakan lingkungan belajar, kewajiban siswa adalah belajaar, kedua kegiatan tersebut menyatu dalam sebuah interaksi pengajaran yang disebut interaksi edukatif. Lingkungan pengajaran yang kondusif adalah lingkungan yang mampu mendorong anak didik untuk selalu belajar hingga berakhirnya kegiatan belajar mengajar.
Belajar memerlukan motivasi sebagai pendorong bagi anak didik adalah motivasi intrinsik yang lahir dari kesadaran akan pentingnya ilmu pengetahuan.
Anak didik yang kurang senang menerima pelajaran tidak harus terjadi , karena hal itu sangat menghambat proses belajar mengajar, oleh sebab iu guru harus menciptakan lingkungan belajar yang mampu mendorong anak didik untuk senang dan bergairah belajar. Untuk hal ini , cara akurat yang seharusnya dilakukan guru adalah mengembangkan variasi belajar, baik dalam gaya mengajar,dalam penggunaan media dan bahan pelajaran
1. B. PRINSIP PENGGUNAAN
Lingkungan yang kondusif dan menyenangkan dalam suasana belajar sangat diperlukan agar dapat menggariahkan belajar siswa dan merangsang siswa menjadi aktif
Prinsip – prinsip penggunaan variasi mengajar adalah sebagai berikut :
1. Dalam menggunakan keterampilan variasi sebaiknya semua variasi digunakan , selain juga harus ada variasi penggunaan komponen untuk setiap jenis variasi. Semua itu untuk mencapai tujuan belajar.
2. Menggunakan variasi secara lancar dan berkesinambungan , sehingga saat proses belajar mengajar yang utuh tidak rusak, perhatian anak didik dan proses belajar tidak terganggu
3. Penggunaan komponen variasi harus benar – benar terstruktur dan direncanakan oleh guru. Karena itu memerlukan penggunaan yang luwes , spontan , sesuai dengan umpan balik yang diterima oleh siswa.
Bentuk umpan balik ada dua yaitu :
1. a. Umpan balik tingkah laku yang menyangkut perhatian dan keterlibatan siswa
2. b. Umpan balik informasi tentang pengetahuan dan pelajar
C. KOMPONEN – KOMPONEN VARIASI MENGAJAR
Variasi Pola
Interaksi dan Kegiatan

Variasi
Media dan Bahan

Variasi
Mengajar

• Suara
• Memusatkan Perhatian
• Kesenyapan
• Kontak Pandang
• Variasi Gerakan Badan
• Mengubah Posisi
• Klasikal
• Kelompok
• Perorangan
• Dsikusi, Latihan, Demontrasi dll



• Visual
• Audio
• Taktil

`
Jenis

Verbal



• Hangat dan Antusias
• Bermakna
• Respon Positif
• Jelas sasaran
• Segera
• Variasi


Komponen variasi mengajar dapat dibagi dalam tiga kelompok besar yaitu variasi gaya mengajar, variasi media dan bahan , serta variasi interaksi.
Uraian yang mendalam mengenai ketiga kelompok variasi ini akan dibahas .
1. Variasi Gaya Mengajar
Variasi ini meliputi variasi suara , variasi gerakan anggota badan, dan variasi perpindahan posisi guru dalam kelas. Bagi anak didik , variasi tersebut dilihat sebagai suatu yang energik, antusias, bersemangat, dan semuanya memiliki relevansi dengan hasil belajar. Perilaku guru seperti itu dalam proses belajar mengajar akan :
• menjadi dinamis dan
• mempertinggi komunikasi antara guru dan anak didik,
• menolong penerimaan bahan pelajaran dan
• memberi stimulasi .
Variasi gaya mengajar ini adalah sebagai berikut :
1. Variasi Suara
Suara guru dapat bervariasi dalam intonasi , nada, volume dan kecepatan. Guru dapat mendramatisir suatu peristiwa, menunjukkan hal – hal yang dianggap penting, berbicara secar pelan dengan seorang anak didik , atau berbicara secar tajam dengan anak didik yang kurang perhatian dan lain-lain.
1. Penekanan (focusing)
Berfungsi untuk menfokuskan perhatian anak didik pada suatu aspek yang penting atau aspek kunci, digunakan penekanan verbal. Penekana tersebut biasanya dikombinasikan dengan gerakan anggota badan yang dapat menunjukkan dengan jari atau memberi tanda pada papan tulis.
1. Pemberian Waktu ( Pausing)
Untuk mendapatkan perhatian anak didik , dapt dilakukan dengan mengubah suara menjadi sepi , dari suatu kegiatan menjadi tanpa kegiatan atau diam, dari akhir bagian pelajaran kebagian berikutnya. Dalam keterampilan bertanya , pemberian waktu dapat diberikan setelah guru mengajukan beberapa pertanyaan , untuk mengubahnya menjadi pertanyaan yang lebih tinggi tingkatannya . Bagi anak didik , pemberian waktu dipakai untuk mengorganisasikan jawaban agar menjadi lengkap.
1. Kontak Pandang
Bila guru berbicara atau berinteraksi dengan anak didik, sebaiknya mengarahkan pandangan ke seluruh kelas, menatap mata setiap anak didik untuk dapat membentuk hubungan yang positif dan menghindari hilangnya kepribadian.
1. Gerakan Anggota Badan ( Gesturing)
Variasi dalam mimik, gerakan kepala atau badan merupakan bagian yang penting dalam komunikasi. Tidak hanya untuk menarik perhatian saja, tetapi juga menolong dalam menyampaikan arti pembicaraan.
1. Pindah Posisi
Perpindahan posisi guru dalam ruang kelas dapat membantu menarik perhatian anak didik, dapt meningkatkan kepribadian guru. Gerakan tersebut misalnya dari depan ke belakang, dari sisi kiri ke sisi kanan atau dari posisi duduk kemudian berubah menjadi posisi berdiri.Yang pentinag setiap perubahan ada tujuannya dan tidak menjemukan.
1. Variasi Media dan Bahan
Setiap anak mempunyai kemampuan indra yang tidak sama baik pendengaran maupun penglihatan, juga kemampuan berbicara. Ada anak yang suka membaca, ada yangsuka mendengarkan dulu baru mambaca atau sebaliknya.
Ada tida komponen dalam variasi penggunan media yaitu, media pandang, media dengar dan media taktil.
1. Variasi Media Pandang (Visual )
Pengunaan media visual dapat diartikan sebagai penggunaan alat dan bahan ajaran khusus untuk komunikasi, seperti buku, majalah, globe, peta , film , slide, TV, Radio , grafik, model , demontrasi dan lianlainnya. Penggunaan media tersebut mempunyai keuntungan :
1. Membantu secara konkret konsep berpikir, dan mengurangi respon yang kurang bermanfaat
2. Memiliki secar potensial perhatian anak didik pada tingkat yang tinggi
3. Dapat membuat hasil belajar yang nyata yang akan mendorong kegiatan mandiri anak didik
4. Mengembangkan cara berpikir berkesinambungan, seperti halna dalam film
5. Memberi pengalaman yang tidak mudah dicapai oleh alat yang lain
6. Menambah frekuensi kerja, lebih dalam dan variasi belajar
1. Variasi Media Dengar ( Audio)
Pada umumnya dalam proses belajar di kelasm suara guru adalah alat utama dalam komunikasi. Variasi dalam pengunaan media dengan memerlukan sekali saling bergantian atau kombinasi dengan media pandangan ( visual ) dan media taktil (interaksi)
1. Variasi Media Taktil ( Interaksi )
Pengunaan media yang memberikan kesempatan kepada anak didik untuk menyentuh dan memanipulasi benda atau bahan ajaran. Dalam hal ini akan melibatkan anak didik dalam kegiatan penyusunan atau pembuatan model, yang hasilnya dapat disebutkan sebagao media taktil. Kegiatan tersebut dapat dilakukan secara individu ataupun kelompok kecil.
1. Variasi Interaksi
Dalam pola interaksi antara guru dan anak didik memiliki rentangan yang bergerak dari dua kutub yaitu :
1. Anak didik bekerja atau belajar secara bebas tanpa campur tangan dari guru
2. Anak didik mendengarkan dengan pasif. Situasi didominasi oleh guru , dimana guru berbicara kepada anak didik
Bila guru berbicara dapat melalui beberapa kategori : Filling persetujuan, Penghargaan ataupeningkatan, Menggunakan pendapat anak didik, Bertanya, Ceramah ,Memberi petunjuk, Mengkritik.
Bila Anak didik dapat berbicara melalui : Pemberian respon, Pengambilan prakarsa.
Bila guru mengajukan pertanyaan dapat juga divariasikan sesuai dengan domain kognitif dari Bloom, pertanyaan dapat juga diajukan keseluruh kelas atau ditujukan kepada anak didik, maka dapat berbentuk : mendengarkan ceramah guru, mengajukan pendapat pada diskusi kelompok kecil , bekerja individual atau kerja kelompok, membahas secara keras atau secara pelan, melihat film , bekerja di laboratoriu,.
KESIMPULAN
Variasi mengajar sangat diperlukan dalam proses belajar mengajar . Komponen-komponen variasi menajar seperti variasi gaya mengajar, variasi media, dan bahan ajaran dan variasi interaksi , mutlak dikuasi oleh guru untuk menggairahkan belajar anak didik dalam waktu relatif lama dalam suatu pertemuan kelas.
DAFTAR PUSTAKA
1. Drs Syaiful Bahri Djamara dan Drs Aswan Zain; Strategi Belajar Mengajar, enerbit Rhineka Cipta, Cetakan ke tiga , Agustus 2006, Jakarta
2. Prof. Dr. Nana Syaodih Sukmadinata,; Landasan Psikologis Proses Pendidikan,;Penerbit PT Remaja Rosdakarta, Cetakan ke dua, Oktober 2004, Bandung.
3. Roestiyah N K; Strategi Belajar Mengajar ; Penerbit Rhineka Cipta, Cetakan ke tujuh , Maret 2008, Jakarta
4. Moh Uzer Usman dan Lilis SEtiawati; Upaya Optimalisasi Kegiatan Belajar Mengajar, ,;Penerbit PT Remaja Rosdakarta, Cetakan pertama, 1993, Bandung.
5. Ibrahim, Perencanaan Pengajaran, Rineka Cipta, Jakarta, 2003
6. Hamalik, O, Psikologi Belajar dan Mengajar, Sinar Baru, 1992
7. Tohirin, Psikologi Pembelajaran PAI, Rineka Cipta, Jakarta, 2005
8. Prof. Dr Azhar Arsyad,M.A , Media Pembelajaran, PT Rajagrafindo, edisi ke 9 , 2007. Jakarta
pengembangan variasi mengajar
pengembangan variasi mengajar
BAB I
PENDAHULUAN
Pada dasarnya semua orang tidak menghendaki adanya kebosanan dalam hidupnya. Sesuatu yang membosankan adalah sesuatu yang tidak menyenangkan. Merasakan makanan yang terus-menerus akan menimbulakan kebosanan. Orang akan lebih suka bila hidup itu diisi dengan penuh variasi dalam arti kata positif. Makan makanan yang bervariasi Mendengarkan lagu-lagu baru lebih menyenangkan daripada lagu-lagu yang tiap hari didengar. Rekreasi pada dasarnya juga mengurangi kebosanan pandangan ditempat asalnya. Mengatur alat rumah tangga sering berganti, akan membuat orang lebih senang dirumah daripada pergi. Demikian juga dalam proses belajar mengajar . Bila guru dalam proses belajar mengajar tidak menggunakan variasi, maka akan membosankan siswa, perhatian siswa berkurang, mengantuk, dan akibatnya tujuan belajar tidak tercapai. Dalam hal ini guru memerlukan adanya variasi dalam mengajar siswa.
Keterampilan mengadakan variasi dalam proses belajar mengajar akan meliputi tiga aspek, yaitu variasi dalam gaya mengajar, variasi dalam menggunakan media dan bahan pengajaran, dan variasi dalam interaksi antara guru dan siswa.
Apabila ketiga komponen tersebut dikombinasikan dalam penggunaannya atau secara integrasi, maka akan meningkatkan perhatian siswa, membangkitkan keinginan dan kemampuan belajar. Keterampilan dalam mengadakan variasi ini lebih luas penggunaannya daripada keterampilan lainnya, karena merupakan keterampilan campuran atau diintegrasikan dengan keterampilan yang lain. Misalnya, variasi dalam memberikan penguatan, variasi dalam memberi pertanyaan, dan variasi dalam tingkat kognitif.
Dalam proses belajar mengajar ada variasi bila guru dapat menunjukkan adanya perubahan dalam gaya mengajar, media yang digunakan berganti-ganti, dan ada perubahan dalam pola interaksi antara guru-siswa, siswa-guru dan siswa-siswa. Variasi lebih bersifat proses daripada produk.











BAB II
PEMBAHASAN
A. Tujuan Variasi Mengajar

Penggunaan variasi terutama ditujukan terhadap perhatian siswa, motivasi dan belajar siswa. Tujuan mengadakan variasi dimadsud adalah :
1. Meningkatkan dan Memelihara Perhatian Siswa Terhadap Relevansi Proses Belajar Mengajar
Dalam proses belajar mengajar perhatian dari siswa terhadap materi pelajaran yang diberikan sangat dituntut. Sedikitpun tidak diharapkan adanya siswa yang tidak atau kurang memperhatikan penjelasan guru, karena hal itu akan menyebabkan siswa tidak mengerti akan bahan yang diberikan guru.
Dalam jumlah siswa yang besar biasanya ditemukan kesukaran untuk mempertahankan agar perhatian siswa tetap pada materi pelajaran yang diberikan. Berbagai factor memang mempengaruhi. Misalnya factor penjelasan guru yang kurang mengenai sasaran, situasi diluar kelas yang dirasakan siswa lebih menarik daripada materi pelajaran yang diberikan guru, siswa yang kurang menyenangi materi yang diberikan guru.
Fokus permasalahan pentingnya perhatian ini dalam proses belajar mengajar, karena dengan perhatian yang diberikan siswa terhadap materi pelajaran yang guru jelaskan, akan mendukung tercapainya tujuan pembelajaran yang akan dicapai.
Tecapainya tujuan pembelajaran tersebut bila setiap siswa mencapai penguasaan terhadap materi yang diberikan dalam suatu pertemuan kelas. Indikator penguasaan siswa terhadap materi pelajaran adalah terjadinya perubahan di dalam diri siswa. Jadi, perhatian adalah masalah yang tidak bisa dikesampingkan dalam konteks pencapaian tujuan pembelajaran.
Karena itu, guru memperhatikan variasi mengajarnya, apakah sudah dapat meningkatkan dan memelihara perhatian siswa terhadap materi yang dijelaskan atau belum.

2. Memberikan Kesempatan Kemungkinan Berfungsinyanya Motivasi
Motivasi memegang peranan penting dalam belajar. Seorang siswa tidak akan dapat belajar dengan baik dan tekun jika tidak ada motivasi di dalam dirinya. Bahkan tanpa motivasi, seorang siswa tidak akan melakukan kegiatan belajar. Maka dari itu, guru selalu memperhatikan masalah motivasi ini dan berusaha agar tetap tergejolak di dalam diri setiap siswa selama pelajaran berlangsung.
Dalam proses belajr mengajar di kelas, tidak setiap siswa mempunyai motivasi yang sama terhadap sesuatu bahan. Untuk bahan tertentu boleh jadi seorang siswa menyenanginya, tetapi bahan yang lain boleh jadi siswa tersebut tidak menyenanginya. Ini merupakan masalah bagi guru dalam setiap kali mengadakan pertemuan. Guru selalu dihadapkan pada masalah motivasi. Guru selalu ingin memberikan motivasi terhadap siswanya yang kurang memperhatikan materi pelajaran yang diberikan.
Bagi siswa yang sering memperhatikan materi pelajran yang diberikan, bukanlah masalah bagi guiru. Karena di dalam diri siswa tersebut sudah ada motivasi, yaitu motivasi intrinsik. Siswa yang demikian biasanya dengan kesadarannya sendiri memperhatikan penjelasan guru. Rasa ingin tahunya lebih banyak terhadap materi pelajaran yang diberikan. Berbagai gangguan yang ada disekitarnya kurang dapt mempengaruhinya agar memecahkan perhatiannya.
Lain halnya bagi siswa yang tidak ada motivasi di dalam dirinya, maka motivasi ekstrinsik yang merupakan dorongan dari luar dirinya mutlak diperlukan. Disini peranan guru lebih dituntut untuk memerankan fungsi motivasi, yaitu motivasi sebagai alat yang mendorong manusia untuk berbuat, motivasi sebagai alat yang menentukan arah perbuatan, dan motivasi sebagai alat untuk menyeleksi perbuatan.
3. Membentuk Sikap Positif terhadap Guru dan Sekolah
Adalah suatu kenyataan yang tidak bisa dipungkiri bahwa di kelas ada siswa tertentu yang kurang senang terhadap seorang guru. Sikap negative ini tidak hanya terjadi pada siswa, tetapi juga pada siswi. Konsekuensinya bidang studi yang dipegang oleh guru tersebut juga menjadi tidak disenangi. Acuh tak acuh sering ditunjukkan lewat sikap dan perbuatan ketika guru tersebut sedang memberikan materi pelajaran di kelas.
Metode mengajar yang dipergunakan itu-itu saja. Misalnya hanya menggunakan metode ceramah untuk setiap kali melaksanakan tugas mengajar di kelas. Tidak pernah terlihat menggunakan metode yang lain. Misalnya metode diskusi, resitasi, Tanya jawab, problem solving atau cerita.
Guru yang bijaksana adalah guru yang pandai menempatkan diri dan pandai mengambil hati siswa. Dengan sikap ini siswa merasa diperhatikan oleh guru. Siswa selalu ingin dekat dengan guru. Ketiadaan guru barang sehari di sekolah tidak jarang dipertanyakan. Siswa merasa rindu untuk selalu dekat di sisi guru. Guru seperti itu biasanya karena gaya mengajarnya dan pendekatannya yang sesuai dengan psikologis siswa.
Variasi mengajarnya mempunyai relevansi dengan gaya belajar siswa. Di sela-sela penjelasan selalu diselingi humor dengan pendekatan yang edukatif, jauh dari sikap permusuhan.

B. Variasi Gaya Mengajar
1. Pengertian Variasi Gaya Mengajar
Ada beberapa pendapat berkenaan dengan Variasi gaya mengajar. Meliputi:
a. Menurut Uzer Usman variasi adalah suatu kegiatan guru dalam kontek proses interaksi belajar mengajar yang ditujukan untuk mengatasi kebosanan murid, sehingga dalam situasi belajar mengajar. Murid senantiasa menunjukkan ketekunan, antusiasme serta penuh partisipasi.
b. Menurut Abu Ahmadi gaya mengajar adalah tingkah laku, sikap dan perbuatan guru dalam melaksanakan proses pengajaran.
c. Menurut Abdul Qadir Munsyi, gaya mengajar adalah gaya yang dilakukan guru pada saat mengajar di muka kelas.
d. Menurut Syahminan Zaini, gaya mengajar adalah gaya atau tindak-tanduk guru sebagai pernyataan kepribadiannya dalam menyampaikan bahan pelajarannya kepada siswa.
Dari definisi di atas, bisa ditarik kesimpulan bahwa variasi gaya mengajar adalah pengubahan tingkah laku, sikap dan perbuatan guru dalam kontek belajar mengajar yang bertujuan untuk mengatasi kebosanan siswa, sehingga siswa senantiasa menunjukkan ketekunan, antusiasme serta penuh partisipasi.
BAB I
PENDAHULUAN

A.‎ Latar Belakang
Salah satu masalah yang dihadapi di dunia pendidikan kita sekarang ini ‎adalah masalah lemahnya proses pembelajaran. Dalam proses pembelajaran, ‎anak kurang didorong untuk mengembangkan kemempuan berpikir. Proses ‎pembelajaran didalam kelas diarahkan kepada kemempuan anak untyuk ‎menghafal informasi, otak anak dipaksa untuk mengingat dan menimbun ‎berbagai informasi tanpa dituntut untuk memahami informasi yang diingatnya ‎itu untuk menghubungkan dengan kehidupan sehari-hari. Akibatnya? Ketika ‎anak didik kita lulus dari sekolah, mereka pintar secara teoritis, akan tetapi ‎mereka miskin aplikasi.‎
Mengajar bukan sekedar menyampaikan materi kepada peserta didik. ‎Mengajar merupakan suatu proses mengubah perilaku siswa baik secara ‎intelektual, sikap maupun keterampilan yang dimiliki kearah yang diharapkan. ‎Untuk itu seorang guru harus memiliki kemampuan khusus dalam merancang ‎dan mengimplementasikan berbagai strategi pembelajaran yang dianggap ‎cocok dengan minat dan bakat serta sesuai dengan taraf perkembangan siswa. ‎Itulah sebabnya guru dapat dikatakan sebagi pekerjaan professional.‎
Salah satu cara untuk meningkatkan keefektifan pembelajaran di ‎sekolah adalah memilih atau menetapkan strategi pembelajaran yang resmi ‎dengan kondisi yang diprediksi dapat mempengaruhi hasil belajaran yang akan ‎dicapai oleh siswa. Agar hal ini tercapai guru harus memiliki kemauan dan ‎kemampuan yang memadai untuk mengembangkan atau menetapkan strategi ‎pembelajaran yang sesuai dengan kondisi pengajaran. Dengan adanya srtategi ‎pembelajaran diharapkan peserta didik kita akan menjadi lebih baik dan dapat ‎dengan mudah menerima pembelajarannya, serta dapat langsung di ‎implikasikan dalam kehidupan sehari-hari.‎

B.‎ Rumusan Masalah
‎1.‎ Apa yang dimaksud dengan strategi pembelajaran?‎
‎2.‎ Bagaimana jenis-jenis atau model-model strategi pembelajaran?‎
‎3.‎ Bagaimana prinsip-prinsip penggunaan strategi pembelajaran?‎
‎4.‎ Bagaimanakah konsep pembelajaran berorientasi aktifitas siswa?‎
‎5.‎ Bagaimanakan peran guru dalam implementasi pembelajaran berorientasi ‎pada siswa?‎

BAB II
PEMBAHASAN

‎1.‎ Pengertian Strategi Pembelajaran
Istilah strategi mula-mula dipakai dikalangan militer dan diartikan ‎sebagai seni dalam merancang(operasi) peperangan, terutama yang erat ‎kaitannya dengan gerakan pasukan dan navigasi kedalam posisi perang yang ‎dipandang paling menguntungkan untuk memperoleh kemenangan. Kata ‎strategi berasal dari kata Strategos (Yunani) atauStrategus. Strategos berarti ‎jenderal atau berarti pula perwira Negara (state officer). Jenderal inilah yang ‎bertanggungjawab merencanakan suatu strategi dan mengarahkan pasukannya ‎untuk mencapai kemenangan.(Drs.H. Abu Ahmadi-Drs, Joko Tri ‎Prasetya,1997:121).‎
Dewasa ini istilah strategi banyak dipinjam oleh bidang-bidang ilmu ‎lain, termasuk bidang ilmu pendidikan, dalam kaitannya dengan belajar ‎mengajar, pemakain istilah strategi dimaksudkan sebagai daya upaya guru ‎dalam menciptakan suatu sitem lingkungan yang memungkinkan tejadinya ‎proses mengajar.‎
Pengertian Strategi pembelajaran cukup beragam walaupun pada ‎dasarnya sama. Joni (1983) berpendapat bahwa yang dimaksud strategi adalah ‎suatu prosedur yang digunakan untuk memberikan suasana yang konduktif ‎kepada siswa dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran. Secara spesifik ‎Sherly (1987) merumuskan pengertian strategi sebagai keputusan-keputusan ‎bertindak yang diarahkan dan keseluruhannya diperlukan untuk mencapai ‎tujuan.‎
Kemp (1995) menjelaskan bahwa strategi pembelajaran adalah suatu ‎kegitan pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan siswa agar tujuan ‎pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efisien. Dick and Carey (1985) ‎menyebutkan bahwa strategi pembelajaran adalah suatu set materi dan ‎prosedur pembelajaran yang digunakan secara bersama-sama untuk ‎menimbulkan hasi belajar pada siswa.‎
Dari pengertian diatas, ada dua hal yang perlu dicermati.Pertama, ‎setrategi pembelajaran merupakan rencana tindakan (rangkaian kegiatan) ‎termasuk penggunaan metode dan pemamnfaatan sumber daya atau kekuatan ‎dalam pembelajaran.Kedua, strategi disusun untuk mencapai tujuan tertentu, ‎artinya arah tujuan dari penyusunan langkah-langkah strategi adalah ‎pencapaian tujuan. Oleh sebab itu sebelum menentukan strategi, perlu ‎dirumuskan tujuan yang jelas yang dapat diukur keberhasilannya, sebab tujuan ‎adalah roh dari implementasi strategi.‎
‎2.‎ Model – Model Strategi Pembelajaran
Dalam menggunakan model mengajar sudah barang tentu guru yang ‎tidak mengenal metode mengajar jangan diharap bisa melaksanakan proses ‎beljar-mengajar dengan sebaik-baiknya. Untuk mendorong keberhasilan dalam ‎proses beljar-mengajar dibawah ini ada beberapa strategi pembelajaran sebagai ‎metode untuk proses belajar-mengajar.‎
‎1.‎ Metode Ceramah.‎
Ceramah adalah sebuah bentuk interaksi melalui penerangan dan ‎penuturan lisan dari guru kepada peserta didik. Dalam pelaksanaan ceramah ‎untuk menjelaskan uraiannya, guru dapat menggunakan alat-alat bantu ‎seperti gambar, dan audio visual lainnya. Peranan siswa dalam metode ini ‎adalah mendengarkan dengan teliti dan mencata pokok penting yg ‎dikemukakan oleh guru.‎
Agar ceramah itu menjadi metode yang baik pelu diperhatikan hal ‎berikut:‎
a)‎ Metode ceramah digunakan jika jumlah khalayak cukup banyak
b)‎ Metode ceramah digunakan jika akan memperkenalkan materi ‎pelajaran baru
c)‎ Metode ceramah digunakan khalayaknya telah mampu menerima ‎informasi melalui kata-kata
d)‎ Diselingi oleh penjelasan melalui gambar dan alat-alat visual ‎lainnya.‎
e)‎ Guru harus berlatih dahulu
‎2.‎ Metode Tanya – Jawab (Respons)‎
Metode Tanya jawab adalah suatu metode didalam pendidikan dan ‎pengajaran dimana guru bertanya sedangkan murid menjawab tentang bahan ‎materi yang ingin diperolehnya, metode Tanya jawab dilakukan agar:‎
a)‎ Sebagai ulangan pelajaran yang telah diberikan
b)‎ Sebagai selingan dalam pembicaraan
c)‎ Untuk merangsang anak didik agar perhatiannya tercurah kepada ‎masalah yang sedang diberikan
d)‎ Untuk mengarahkan proses berfikir
‎3.‎ Metode Diskusi
Metode diskusi adalah suatu kegiatan kelompok dalam memecahkan ‎masalah untuk mengambil kesimpulan. Adapun manfaatnya antara lain:‎
a)‎ Peserta didik memperoleh kesempatan untuk berfikir
b)‎ Peserta didik mendapat pelatihan mengeluarkan pendapat, sikap ‎dan aspirasinya secara bebas
c)‎ Peserta didika belajar toleran terhadap teman-temannya
d)‎ Menumbuhkan partisipasi aktif dikalangan peserta didik. dll ‎
‎4.‎ Metode Pemberian Tugas Belajar (Resitasi)‎
Metode ini sering juga disebut metode pekerjaan rumah yaitu metode ‎dimana murid diberi tugas diluar jam pelajaran. Dalam pelaksanaanya ‎metode ini anak-anak dapat mengerjakan tugasnya tidak hanya dirumah ‎tetapi dapat diperpustakaan, dilaboratorium, dan sebagainya untuk di ‎pertanggung jawabkan, metode ini dilakukan:‎
a)‎ Guru mengharapkan agar semua pengetahuan yang telah diterima ‎anak lebih meyakinkan
b)‎ Untuk mengaktifkan peserta didik mempelajari sendiri suatu maslah ‎dengan membaca sendiri, mengerjakan soal-soal sendiri, dan ‎mencoba sendiri
c)‎ Agar peserta didik lebih rajin

‎5.‎ Metode Demontrasi dan Eksprimen
Metode demontrasi adalah metode mengajar dimana guru atau orang ‎lain yang sengaja diminta atau murid sendiri memperlihatkan kepada seluruh ‎kelas suatu proses, misalnya proses cara mengambil wuduk,proses jalannya ‎sholat dua rakaat dan sebagainya
Metode eksprimen adalah metode pengajaran dimana guru dan murid ‎brsama-sama mengerjakan sesuatu sebagai latihan praktis dari apa yang ‎diketahui, misalnya murid mengerjakan sholat jumaat,merawat jenazah dan ‎sebagainya. Metode ini dilakukan:‎
a)‎ Peserta didik menunjukkan ketrampilan tertentu
b)‎ Untuk memudahkan berbagai penjelasan, sebab penggunaan ‎bahasadapat lebih terbatas
c)‎ Untuk membantu peserta didik memahami dengan jelas jalannya ‎suatu proses dengan penuh perhatian sebab akan menarik.‎
‎6.‎ Metode Kerja Kelompok
Metode kerja kelompok dalam rangka pendidikan dan pengajaran ialah ‎kelompok dari kumpulan beberapa individu yang bersifat paedagogis yang ‎didalamnya terdapat adanya hubungan timbale balik antar individu serta ‎sikap saling percaya.‎
‎7.‎ Metode Sosiodrama dan Bermain Peranan
Metode sosiodrama adalah metode mengajar dengan mendemontrasikan ‎cara bertingkah laku dalam hubungan social, sedangkan bermain peranan ‎menekankan kenyataan dimana para murid diikut sertakan dalam permainan ‎peranan didalam mendemontrasikan masalah-masalah social.‎
‎8.‎ Metode Karyawisata
Metode karya wisata sering diberi pengertian sebagai suatu metode ‎pengajaran yang dilaksanakan dengan cara bertamasya diluar kelas. Dalam ‎perjalanan tamasya ada hal-hal tertentu yang telah direncakan oleh guru ‎untuk didemonstrasikan pada anak didik, di samping hal-hal yang secara ‎kebetulan ditemukan dalam tamasya tersebut.‎

‎9.‎ Metode Mengajar Beregu ‎
Adalah salah satu cara menyajikan bahan pelajaran yang dilakukan ‎bersama oleh dua orang atau lebih kepada kelompok pelajar untuk mencapai ‎tujuan pengajaran. Guru yang menyajikan bahan pelajaran dengan metode ‎ini menyajikan bahan pengajaran yang sama dan dalam waktu yang sama ‎pula.‎
Apabila pertentangan informasi keterangan itu muncul pada waktu ‎pengajaran berlangsung, maka anggota tim berusaha untuk menyatukan ‎pendapat, tetapi bagi kelompok pelajar yang diperkirakan sudah dewasa dan ‎sudah dapat memilih mana yang benar dan mana yang salah.‎
‎10.‎ Metode Proyek(unit)‎
Adalah suatu metode mengajar dimana bahan pelajaran di organisasikan ‎sedemikian rupa sehingga merupakan suatu keseluruhan atau kesatuan bulat ‎yang bermakna dan mengandung suatu pokok masalah, adapun factor-faktor ‎yang harus diperhatikan
a)‎ Sesuai dengan minat,kebutuhan dan pengalaman pelajar
b)‎ Setaraf dengan dengan kematangan
c)‎ Merangsang serta memberikan kesempatan kepada para pelajar ‎untuk menggunakan pikirannya untuk berkreasi dan sudah ‎terencana.‎
‎3.‎ Prinsio-Prinsip Strtegi Pembelajaran
Prinsip umum penggunaan strategi pembelajaran adalah tidak semua ‎strategi cocok digunakan untuk mencapai semua tujuan dan semua keadaan. ‎Setiap strategi memiliki kekhasan sendiri-sendiri dan guru harus mampu ‎memilih strategi yang dianggap cocok dengan keadaan. Oleh karena itu, guru ‎harus memahami prinsip-prinsip umum penggunaan strategi pembelajaran ‎sebagi berikut:‎
‎1)‎ Mengajar harus bedsarkan pengalaman yang sudah dimiliki siswa, ‎apa yang telah dipelajari merupakan dasar dalam mempelajari bahan ‎yang akan di ajarkan, hal ini sangat penting agar proses bvelajar ‎mengajar dapat berlangsung secara efektif dan efisien.‎
‎2)‎ Pengetahuan dan ketrampilan yang diajarkan harus bersifat praktis, ‎hal ini dapat menarik minat sekaligus memotivasi belajar.‎
‎3)‎ Mengajar harus mempehatikan individual siswa.‎
‎4)‎ Kesiapan (readinees) dalam belajar sangat penting dijadikan ‎landasan mengajar.‎
‎5)‎ Tujuan pengajaran harus diketahui siswa
‎6)‎ Mengajar harus mengikuti prinsip psikologis tentang belajar.(Dr. ‎Hamzah B, Uno,M.Pd, 2008:7)‎
‎4.‎ Konsep Pembelajaran Beraktivitas Siswa.‎
Pembelajaran berorientasi aktivitas siswa dapat dipandang sebagai suatu ‎pendekatan dalam pembelajaran yang menekankan kepada aktiivitas siswa ‎secara optimal untuk memperoleh hasil belajar berupa perpaduan antara aspek ‎kognotif, afektif, dan psikomotor secara berkembang, aktivitas ini dapat ‎berupa aktivitas fisik,mental maupun keduanya dan pembelajaran berorientasi ‎aktivitas siswa ini merupakan suatu proses kegiatan belajar mengajar, dimana ‎anak terutama mengalami intelektual emosional disamping keterlibatatan fisik ‎didalam proses belajar mengajar.(Drs.H. Abu Ahmadi-Drs, Joko Tri ‎Prasetya,1997:120).‎
Keterlibatan atau keaktifan siswa dalam proses belajar mengajar ‎beraneka ragam, seperti mendengarkan ceramah,mendiskusikan,membuat suatu ‎alat, membuat laporan pelaksanaan-pelaksanaan tugas dan sebagainya. ‎Keaktifan siswa yang berbeda-beda ini dapatlah dikelompokkan atas aktivitas ‎yang bersifat fisik dan aktivitas yang bersifat non fisik, seperti mental, ‎intelektual dan emosional.(Drs.H. Abu Ahmadi-Drs, Joko Tri ‎Prasetya,1997:121).‎
Dari konsep diatas dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa tujuan dari ‎pembelajaran berorientasi siswa adalah untuk membantu peserta didik agar ‎bisa belajar mandiri dan kreatif, sehingga ia dapat memmperoleh pengetahuan, ‎keterampilan, dan sikap yang dapat menunjang terbentuknya kepribadian yang ‎mandiri. Jika dihubungkan dengan tujuan pendidikan nasional maka ‎pembelajaran aktivitas siswa adalah pendekatan yang paling sesuai untuk ‎dikembangkan.‎

‎5.‎ Peran Guru Dalam Pembelajaran Berorientasi Aktivitas Siswa
Pembelajaran berorientasi aktifitas siswa dilihat dari segi guru ‎merupakan suatu strtegi yang dipilih guru agar keaktifan siswa dalam kegiatan ‎belajar mengajar berlangsung secra optimal, Dalam implementasi pembelajaran ‎berorientasi aktifitas siswa, guru tidak berperan sebagai satu-satunya sumber ‎belajar yang bertugas menuangkan materi pelajaran kepada siswa, tetapi yang ‎lebih penting adalah bagaimana memfasilitasi siswa agar belajar. Oleh karena ‎itu, penerapan pembelajaran berorientasi aktifitas siswa menuntut guru untuk ‎kreatif dan inovatif sehingga mampu menyesuaikan kegiatan mengajaranya ‎dengan gaya dan karakteristik belajar siswa. Untuk itu ada beberapa kegiatan ‎yang dapat dilakukun guru, diantaranya adalah :‎
a)‎ Adanya usaha untuk membina dan mendorong subjek didik dalam ‎menigkatkan kegairahan serta partisipasi siswa secara aktif
b)‎ Adanya kemampuan guru untuk melakukan peran sebagai innovator ‎maupun motivator terhadap hal-hal baru dibidang masing-masing ‎dalam proses belajar mengajar
c)‎ Adanya sikap tidak mendominasi kegiatan belajar mengajar
d)‎ Adnaya pemberian kesempatan kepada siswa untuk belajar menurut ‎cara,irama maupun tingkat kemampuan masing-masing.‎
e)‎ Adanya kemampuan untuk menggunakan berbagai macam strategi ‎belajar mengajar dan menggunakan multimedia maupun ‎multimetode dalam proses belajar mengajar.(Drs.H.Abu Ahmadi-‎Drs. Joko Tri Prasetya:1997:130)‎

BAB III
KESIMPULAN

Dari beberapa penjelasan-penjelsan diatas dapat di simpulkan
‎1.‎ Strategi adalah suatu prosedur yang digunakan untuk memberikan suasana ‎yang konduktif kepada siswa dalam rangka mencapai tujuan pembelajaran. ‎Secara ‎
‎2.‎ Jenis-jenis atau model strategi pembejaran yaitu:metode ceramah, metode ‎Tanya jawab, metode diskusi, metode pemberian tugas belajar(resitasi), ‎metode demonstrasi dan eksprimen, metode kerja kelompok, metode ‎sosiodrama dan bermain peranan, metode karyawissata, metode mengajar ‎beregu dan metode proyek(unit).‎
‎3.‎ Prinsip-prinsip umum penggunaan strategi pembelajaran sebagi berikut:‎
a)‎ Mengajar harus bedsarkan pengalaman yang sudah dimiliki siswa, apa ‎yang telah dipelajari merupakan dasar dalam mempelajari bahan yang ‎akan di ajarkan, hal ini sangat penting agar proses bvelajar mengajar ‎dapat berlangsung secara efektif dan efisien.‎
b)‎ Pengetahuan dan ketrampilan yang diajarkan harus bersifat praktis, hal ‎ini dapat menarik minat sekaligus memotivasi belajar.‎
c)‎ Mengajar harus mempehatikan individual siswa.‎
d)‎ Kesiapan (readinees) dalam belajar sangat penting dijadikan landasan ‎mengajar.‎
e)‎ Tujuan pengajaran harus diketahui siswa
f)‎ Mengajar harus mengikuti prinsip psikologis tentang belajar.‎
‎4.‎ Dari konsep diatas dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa tujuan dari ‎pembelajaran berorientasi siswa adalah untuk membantu peserta didik agar ‎bisa belajar mandiri dan kreatif, sehingga ia dapat memmperoleh ‎pengetahuan, keterampilan, dan sikap yang dapat menunjang terbentuknya ‎kepribadian yang mandiri. Jika dihubungkan dengan tujuan pendidikan ‎nasional maka pembelajaran aktivitas siswa adalah pendekatan yang paling ‎sesuai untuk dikembangkan.‎
‎5.‎ Dalam implementasi pembelajaran berorientasi aktifitas siswa, guru tidak ‎berperan sebagai satu-satunya sumber belajar yang bertugas menuangkan ‎materi pelajaran kepada siswa, tetapi yang lebih penting adalah bagaimana ‎memfasilitasi siswa agar belajar. Oleh karena itu, penerapan pembelajaran ‎berorientasi aktifitas siswa menuntut guru untuk kreatif dan inovatif ‎sehingga mampu menyesuaikan kegiatan mengajaranya dengan gaya dan ‎karakteristik belajar siswa.‎

DAFTAR PUSTAKA

Ahmadi, Abu dan Tri Prasetya, Joko, 1997, Strategi Belajar Mengajar, Bandung, ‎CV. Pustaka Setia.‎
Hamalik, Oemar, 2010, Perencanaan Pengajaran Berdasarkan Pendekatan ‎Sistem, Jakarta, PT.Bunmi Aksara
Hamalik, Oemar, 2010, Proses Belajar Mengajar, Jakarta, PT.Bunmi Aksara‎
Sagala, Syaiful, 2008, Konsep Dan Makna Pembelajaran, Bandung, CV. Alfabeta ‎
Uno, Hamzah B, 2008, Perencanaan Pembelajaran, Jakarta, PT Bumi Aksara‎
Zaini, Hisam, Munthe, Bernawy, dan Ayu Aryani, Sekar, Strategi Pembelajaran ‎Aktif, Yogyakarta, Pustaka Insan Madani, ‎

0 komentar:

Posting Komentar

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Printable Coupons